Dara masih terdiam meski jemari semakin gelisah menunggu jawabnya. Sesekali jemari melirik dawai itu berharap dawai tidak memberikan tatapan senang untuk kegelisahannya. Namun, Dara masih diam seolah tak peduli dengan apa yang telah jemari sampaikan. Dara bangun dari peraduannya lalu kembali melangkah menemui deretan bangku di balkon. Jemari pasrah meski tatapannya sendu, bahkan tenaganya sulit ia kumpulkan untuk berbagi dengan lembaran yang masih berjejer di hadapannya.
Jemari tak mengerti apa yang sedang Dara pikirkan akan inginnya. Seketika ia terkejut ketika Dara bergegas berlari ke sudut yang semenjak tadi jemari tatap. Dara mengambilnya; Dara membawanya; Dara menyentuhnya. Batin jemari berdegup tak karuan, entah apa yang sedang Dara pikirkan malam ini dan antara jemari dan dawai.
Dara kembali duduk membelai indahnya malam yang sudah mulai menghadirkan bintang. Jemari semakin tak bisa mengatur helaan nafasnya sesaat ketika dawai begitu dekat dengannya. Tanpa pikir panjang jemari mencoba memberanikan diri untuk menyapa Dara. Sentak jemari tersentuh, Dara benar-benar ingin bernyanyi untuk malam, bahkan Dara memohon dawai untuk bersahabat bersama jemari. Jemari sungguh tak menyangka dawai pun menyapanya dan telah melupakan segala pertikaian masa silam dan mencoba bersahabat untuk Dara.
Jemari mulai menggenggam dawai, dengan anggun dawai menyambut baik sapaan itu. Penuh pengharapan jemari begitu menjiwai segala kata yang telah ia ukir dalam lembaran malam, siang, bahkan pagi dalam segala rasa. Jemari dengan penuh kasih menyampaikan larik hidup kepada dawai. Jemari dengan raga yang masih ia miliki ia haturkan janji untuk selalu menjaga kata dan larik yang telah membentuk menjadi seberkas nada ketika dawai telah berbicara.
Dawai menyimak jemari sang Dara itu bersastra, jemari itu mendengung, lewat sastra ia sentuh dawai. Dawai mencoba memahami lalu menyisiri kata dalam bait rasa itu. Lalu, dawai tersenyum, larik itu telah menyentuh bagian dirinya kemudian membiaskan tubuhnya tersentuh jemari lalu bernada. Nada-nada itu mulai terdengar, merdu, kian menyuara ke permukaan malam yang masih dingin ini.
Dara mulai menyuarakan larik-larik itu, menyatukannya bersama nada ketika jemari dan dawai sedang asyik berduet memecahkan kesunyian Dara. Dara semakin mengalunkan merdunya suara indah miliknya, mengisahkan makna lewat iringan nadanya dan berbagi kepada malam agar tak lagi pergi. Dara masih saja takut malam ini pergi, meski malam selalu berjanji ia akan kembali lagi esok.
bersambung....
Minggu, 06 Oktober 2013
Jumat, 04 Oktober 2013
Jemari Sang Dara (3)
Jemari mulai memutar akar agar dawai tak lagi menjauh darinya. Di sendu langit siang itu ia berkelana dalam sisi indah dawai yang ingin ia miliki. Ia sedang berusaha keras agar dawai tak lagi sepi ketika ia hendak menyapa. Ia tak berharap banyak, hanya ingin mengenalkan lembaran yang tlah ia lukis kepada hati sang dawai.
Uh,,,entahlah,
Dara pun mulai gelisah melihat jemari yang sibuk mengisah tentang dawai. Dara menyadari sedari dulu jemarinya tak mudah bersahabat dengan dawai meski ia begitu ingin. Dara pun mulai sendu melihat jemari yang mulai diam hampir kehilangan harap. Masih menatapnya, Dara mencoba mengajak jemari menyentuh tetes gerimis siang itu yang hampir berlalu bersama sore yang mulai hadir di detik-detik waktu yang terus berdetak tak jauh dari telinganya.
Jemari pun patuh tak bergeming meski hatinya masih tak tau bagaimana cara menyatukannya dengan dawai. Namun, jemari terpaksa menyerah dengan sendunya kini. Dara masih saja lemah karena malam tlah mengambil perhatiannya sehingga terlelap pun tak ingin ia temui. Dara, masih saja senja, ia telah mencari sudut senderan ketika hujan hanya menyisakan dingin bersama senja yang manja. Ia mencoba tersenyum bersama senja yang seolah bahagia setelah hujan melampiaskan rasanya. Mungkin langit siang tak lagi menyimpan beban beratnya sore itu jemari berbisik.
Jemari hendak menyentuh lembaran itu, sedikit saja menulis tentang senja dan dara kala itu. Namun, Dara begitu lena, ia meraih jemari tuk menyeka wajah tirusnya hingga pupus sudah senja itu direkam dengan indah oleh jemari. Senja seolah tersenyum geli melihat Dara dan jemarinya kemudian bergegas meninggalkan Dara takut Dara terbangun dari kantuk yang ia simpan sejak semalam. Dengan anggun senja hadir sejenak menyapa insan dengan berjuta misterinya, kemudian berlalu untuk hadirkan malam yang mungkin dirindukan banyak umat.
Dara masih lelap,
Jemari mulai terbangun dan teringat lagi dengan dawai. Kali ini dawai itu tak jauh darinya, hanya butuh Dara yang menggenggam dan ia bisa memperbaiki hubungan buruk ini. Lagi, jemari masih bisa mengkhayalkan harapannya bersatu dengan dawai.
Dara masih lelap,
Jemari berupaya lagi, upaya terbesarnya hanyalah meyakinkan hati untuk tak bersitegang dengan dawai ketika dawai menyindirinya atau ketika dawai mencemoohnya. Sudahkah jemari siap? Ia pun masih bertanya pada dirinya sendiri waktunya masih ada, setidaknya selama Dara masih lelap.
Dara pun terbangun sesaat setelah malam benar-benar siap hadir menemani umat.
Jemari pun bercerita pada dara tentang dawai, Dara tersentak dan tak menjawab hanya memandang ragu antara dawai dan jemarinya.
bersambung...
Uh,,,entahlah,
Dara pun mulai gelisah melihat jemari yang sibuk mengisah tentang dawai. Dara menyadari sedari dulu jemarinya tak mudah bersahabat dengan dawai meski ia begitu ingin. Dara pun mulai sendu melihat jemari yang mulai diam hampir kehilangan harap. Masih menatapnya, Dara mencoba mengajak jemari menyentuh tetes gerimis siang itu yang hampir berlalu bersama sore yang mulai hadir di detik-detik waktu yang terus berdetak tak jauh dari telinganya.
Jemari pun patuh tak bergeming meski hatinya masih tak tau bagaimana cara menyatukannya dengan dawai. Namun, jemari terpaksa menyerah dengan sendunya kini. Dara masih saja lemah karena malam tlah mengambil perhatiannya sehingga terlelap pun tak ingin ia temui. Dara, masih saja senja, ia telah mencari sudut senderan ketika hujan hanya menyisakan dingin bersama senja yang manja. Ia mencoba tersenyum bersama senja yang seolah bahagia setelah hujan melampiaskan rasanya. Mungkin langit siang tak lagi menyimpan beban beratnya sore itu jemari berbisik.
Jemari hendak menyentuh lembaran itu, sedikit saja menulis tentang senja dan dara kala itu. Namun, Dara begitu lena, ia meraih jemari tuk menyeka wajah tirusnya hingga pupus sudah senja itu direkam dengan indah oleh jemari. Senja seolah tersenyum geli melihat Dara dan jemarinya kemudian bergegas meninggalkan Dara takut Dara terbangun dari kantuk yang ia simpan sejak semalam. Dengan anggun senja hadir sejenak menyapa insan dengan berjuta misterinya, kemudian berlalu untuk hadirkan malam yang mungkin dirindukan banyak umat.
Dara masih lelap,
Jemari mulai terbangun dan teringat lagi dengan dawai. Kali ini dawai itu tak jauh darinya, hanya butuh Dara yang menggenggam dan ia bisa memperbaiki hubungan buruk ini. Lagi, jemari masih bisa mengkhayalkan harapannya bersatu dengan dawai.
Dara masih lelap,
Jemari berupaya lagi, upaya terbesarnya hanyalah meyakinkan hati untuk tak bersitegang dengan dawai ketika dawai menyindirinya atau ketika dawai mencemoohnya. Sudahkah jemari siap? Ia pun masih bertanya pada dirinya sendiri waktunya masih ada, setidaknya selama Dara masih lelap.
Dara pun terbangun sesaat setelah malam benar-benar siap hadir menemani umat.
Jemari pun bercerita pada dara tentang dawai, Dara tersentak dan tak menjawab hanya memandang ragu antara dawai dan jemarinya.
bersambung...
Kamis, 03 Oktober 2013
PPT Konsep Sastra Nasional, Sastra Banding, dan Sastra Dunia dan Artikel Sanding
Mahasiswa PBSID kelas 5 C, D, dan E, berikut PPT Konsep Sastra Nasional, Sastra Banding, dan Sastra Dunia dan Artikel Sanding yang dapat Anda unduh!
PPT Sastra Nasional, Sastra Banding, dan Sastra Dunia
Artikel Sanding Suwardi Endasawara
Artikel Sanding Pintu Masuk Kajian Budaya
Catatan Penting!
Dua Artikel di atas harap dibaca sebelum perkuliahan pertemuan ke-6 dan dibawa dalam bentuk telah dicetak, terima kasih.
PPT Sastra Nasional, Sastra Banding, dan Sastra Dunia
Artikel Sanding Suwardi Endasawara
Artikel Sanding Pintu Masuk Kajian Budaya
Catatan Penting!
Dua Artikel di atas harap dibaca sebelum perkuliahan pertemuan ke-6 dan dibawa dalam bentuk telah dicetak, terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)







